Apa itu Dropshipper, Reseller, dan Supplier? Bagaimana Cara Kerjanya

Penulis
Ifan Prasya
Diterbitkan pada
16 Desember 2020
Waktu membaca
7 Menit

Sesering apa kamu mendengar istilah dropshipper, reseller, dan supplier di jagat maya? Apalagi jika kamu sedang butuh alternatif untuk mulai usaha, mengerti ketiga istilah tersebut juga penting.

Dalam tulisan ini, penulis telah merangkum segala hal fundamental terkait ketiga istilah tersebut, meliputi:

  • Pengertian / definisi / arti
  • Kelebihan dan kekurangan
  • Contoh real untuk kamu pelajari

Sudah siap belajar? Mari kita mulai.

 

Pengertian Dropshipper dan Contohnya

Dropship adalah cara jualan tanpa harus menyetok barang dari supplier. Jadi, kamu tinggal meneruskan pesanan dari kostumer ke supplier, dan biarkan supplier mengemas lalu mengirimkannya ke alamat kostumer atas nama kamu.

Kelebihan Dropship

1 — Tidak perlu stok barang

Dropshipper tidak perlu mengeluarkan modal dengan membeli stok barang terlebih dulu. Mereka bisa langsung mendaftar program dropship, lalu mulai mempromosikan barang supplier.

Sehingga, risiko untuk memulai sangatlah rendah. Kamu bisa langsung membuka toko, upload foto produk, dan melayani orderan.

2 — Mudah untuk dimulai

Karena risikonya yang relatif rendah, dropship sangat mudah untuk dimulai. Kamu tidak perlu memikirkan soal packing, stok barang, atau rencana bisnis.

Untuk memulainya, kamu hanya perlu mencari supplier yang membuka program dropship. Kemudian daftar dan mulai promosi.

3 — Modal relatif kecil

Hanya perangkat mobile / PC dan internet. Semua aset foto produk, template deskripsi barang, stok tersedia, bahkan sampai cara berpromosi juga biasanya sudah diajarkan.

Namun kadang ada juga supplier atau platform dropship yang mensyaratkan biaya pendaftaran. Itu pun biasanya masih berada di kisaran Rp150.000 hingga Rp250.000.

4 — Dikerjakan dari mana saja

Kamu cukup standby pada aplikasi marketplace (jika tempat jualanmu di Shopee, Tokopedia, dll) dan meneruskan order ke supplier. Sembari terus melakukan promosi via media lain, misalkan WhatsApp atau Instagram.

Dengan begitu, dropship juga bisa dijadikan sebagai usaha sampingan untuk ibu rumah tangga, mahasiswa, atau karyawan sekalipun. Karena bisa dikerjakan di mana saja, dan kapan saja.

5 — Tanpa minimum order

Satu order pun tetap dilayani oleh supplier. Dengan kemudahan ini, kamu juga bisa melakukan cek kualitas barang, apakah sudah memenuhi kriteria atau belum.

Supaya kamu juga tidak kena komplain dari pembeli jika terjadi cacat produk, barang yang dikirim tidak sesuai, atau kesalahan-kesalahan pengiriman lainnya.

6 — Mudah dikembangkan

Dropship sangat bagus untuk memulai usaha di internet tanpa modal yang besar. Selain itu, dropship juga mudah dikembangkan menjadi bisnis yang lebih besar lagi.

Anggap saja, dropship ini sebagai ajang belajar untuk membangun toko online yang bagus, melayani pembeli dengan ramah, mengatasi komplain dengan sabar, hingga kemampuan untuk meningkatkan angka penjualan.

Modal inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan uang dari internet. (Walaupun ini juga penting ya 😀 )

Kekurangan Dropship

1 — Keuntungan relatif rendah

Biasanya, keuntungan dari tiap produk yang dijual relatif kecil, bahkan ada di angka Rp5.000 hingga Rp20.000. Tapi sekali lagi, hal ini bisa diakali dengan cara memperbanyak angka penjualan.

Toh, capeknya seorang dropshipper ada pada kegiatan melayani kostumer dengan sebaik mungkin. Maintenance stok dan yang paling penting adalah membangun brand.

2 — Stok tidak real-time

Nah, masalah ini juga sering terjadi. Stok yang ditampilkan oleh supplier kerapkali tidak sinkron dan real-time. Maka risikonya adalah melakukan pembatalan order yang berujung pada penurunan performa toko kamu.

3 — Pengiriman yang kompleks

Misalkan kamu mengambil barang dari >2 supplier, hal ini akan menjadi kendala. Karena sekali lagi, kamu harus menyelaraskan jasa pengiriman yang dipakai di masing-masing supplier pada setiap produk yang kamu pasang di marketplace.

4 — Kualitas barang di luar kendali

Barang yang dikirim dari supplier ke alamat pembeli tidak bisa kamu cek kualitasnya. Satu-satunya upaya adalah memastikan dengan membeli barang dan mengeceknya sendiri.

Namun hal ini juga masih bisa ada keteledoran dari supplier. Misalkan keliru dalam pengemasan, kualitas barang yang tidak sesuai deskripsi, dan masalah lainnya. Hal ini tentu akan berpengaruh pada nama baik tokomu.

5 — Sulit untuk membangun brand

Karena biasanya, barang dropship yang dijual adalah itu-itu saja. Tidak banyak faktor pembeda antara dropshipper satu dengan yang lainnya. Dengan begitu, akan sulit bagimu untuk membangun brand toko.

Contoh Platform Dropship

1 — DropshipAja.com

dropshipper reseller dropshipaja

Beranda DropshipAja.com

2 — 101Red.com

101red dropshipper reseller

Beranda 101red.com

Pengertian Reseller dan Contohnya

Reseller adalah cara jualan dengan menjual kembali produk dari supplier dengan margin tertentu. Syaratnya, reseller harus stok barang terlebih dulu untuk mendapat potongan harga.

Kelebihan Reseller

1 — Keuntungan relatif lebih besar dibanding dropshipper

Hal ini wajar karena reseller wajib membeli barang sejumlah minimal order (biasanya 1 lusin atau tergantung supplier). Dengan begitu, reseller bisa mendapat potongan harga yang lebih besar dibanding dropshipper.

2 — Bisa mengatur jumlah stok barang

Dengan membeli stok terlebih dulu, reseller bisa mengatur stok yang tersedia di toko. Jika memang stok sudah menipis, reseller bisa langsung membeli lagi. Jadi tidak ada lagi kekhawatiran jika stok habis lalu dikomplain pembeli.

Oh iya, biasanya pada pembelian kedua dan seterusnya, beberapa supplier membolehkan pembelian tanpa minimum order. Tetapi lagi-lagi, sangat bergantung pada syarat dan ketentuan masing-masing supplier, ya.

3 — Bisa memastikan kualitas barang

Kualitas barang yang dibeli dari supplier jelas bisa dicek sedemikian teliti oleh reseller. Kamu bisa komplain jika memang barang yang diterima tidak sesuai deskripsi. Dengan begini, reseller bisa tenang dalam menjual barang tersebut tanpa khawatir kerusakan.

4 — Branding lebih mudah dikembangkan

Selain bisa cek kualitas, reseller juga dibolehkan untuk merombak desain kemasan. Di sinilah letak kelebihan yang menurut kami cukup signifikan berpengaruh pada brand.

Karena reseller bisa terlihat berbeda dibanding produk-produk lainnya. Di mana, terlihat beda sangatlah penting, apalagi jika tempat jualannya di marketplace (untuk menghindari perang harga).

Kekurangan Reseller

1 — Modal relatif lebih besar dibanding dropshipper

Karena harus stok barang di awal, modal yang dikeluarkan oleh reseller relatif lebih besar ketimbang dropshipper. Terkadang, modalnya bisa sampai di atas Rp1 jutaan jika barang yang dijual per pcs >Rp100.000. (Asumsi minimum order 12 pcs)

2 — Harus sedia gudang penyimpanan barang

Selain harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit, reseller juga harus menyiapkan gudang untuk menyimpan barang belanjaan. Gudang ini juga tak boleh sembarangan, ya. Harus sesuai dengan tipikal dan spesifikasi barang.

Tapi sejauh ini, beberapa ruang di rumah masih bisa dimanfaatkan, kok. Jadi tidak perlu langsung menyewa outlet di pasar atau ruko, ya.

3 — Risiko kerugian jika stok barang tidak habis

Karena harus nyetok barang yang tak sedikit, ada risiko rugi jika barang tersebut tidak habis terjual. Untuk mengatasi hal ini, tentu sebelum jadi reseller, kamu harus punya basis pelanggan (yang siap membeli produk) terlebih dulu.

Pelanggan ini bisa didapat dari hasil jualan kamu jadi dropshipper, misalkan. Atau, membangun followers di sosial media Instagram, dan lainnya. Jika ingin lebih mengambil risiko, bisa beriklan di Facebook Ads.

4 — Lebih repot dibanding dropshipper

Jelas, ya. Karena reseller harus mengurus pengemasan, baik kemasan produk maupun kemasan pengiriman ekspedisi. Selain itu, reseller juga harus menulis alamat detail lalu mengirimkannya ke kostumer.

Bahkan tidak berhenti sampai di situ, seorang reseller juga sebaiknya mampu melayani pelanggan, baik dari pertanyaan saat mau membeli, maupun meladeni komplain yang datang silih berganti.

Contoh Platform Reseller

1 — Dusdusan.com

dusdusan reseller dropshipper

Beranda Dusdusan.com

Pengertian Supplier dan Contohnya

Supplier artinya produsen yang mengolah bahan mentah menjadi produk yang siap dijual.

Kelebihan Supplier

1 — Bisa mengatur keuntungan

Sebagai produsen, kamu bisa mengatur besaran profit yang diterima jika produk berhasil terjual. Hitungannya bisa dalam persentase (%) atau langsung nominal tertentu.

Dalam menghitung profit ini juga ada dasar ilmunya. Pakar sering menyebutnya dengan business plan (secara umum) dan B/C & R/C ratio (secara khusus).

2 — Kualitas produk lebih terjamin

Karena semua prosesnya kamu lakukan sendiri, mulai dari mencari bahan, proses produksi, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi; maka kamu juga bisa memantau dan menentukan kualitasnya.

Hal ini juga berpengaruh pada harga yang akan ditetapkan. Jika kualitasnya top markotop, maka harganya pun akan mengikuti.

3 — Lebih mudah membangun brand

Jelas, ya. Karena semuanya serba ditentukan oleh supplier itu sendiri. Baik dari nama produk, desain kemasan, sampai gaya komunikasi saat melakukan pemasaran.

Dengan begitu, brand kamu akan lebih dikenal dan diingat oleh pelanggan, dibanding mereka yang berjualan barang yang sama (dropshipper / reseller). Jika sudah begitu, retensi pembelian (repeat order) akan mudah terjadi.

Kekurangan Supplier

1 — Modal awal relatif lebih besar dibanding reseller

Hal ini tidak bisa disangkal, karena memang butuh modal yang lumayan. Jika produksi sendiri, kamu membutuhkan alat produksi, belanja bahan, aneka kemasan, bahkan sampai biaya distribusi dan pemasaran.

Namun untuk skala produsen UMKM, hal ini tak perlu dikhawatirkan. Rentang modal yang dibutuhkan juga bisa kok dimulai dari angka Rp1-2 jutaan.

2 — Risiko barang tidak laku lebih tinggi

Berbeda dengan menjual barang milik orang lain, menjadi produsen juga punya tantangan tersendiri. Kamu harus mampu menanggung risiko jika ternyata produk yang dijual tidak laku.

Nah, pada fase ini, dibutuhkan kemampuan seller untuk menganalisis, kenapa barangnya tidak laku. Apakah karena kualitas produk, kalah saing, atau justru cara pemasaran yang keliru?

3 — Proses perencanaan hingga pemasaran cukup panjang

Selain risiko rugi, tantangan lainnya adalah perjalanan yang lumayan panjang. Mulai dari mencari ide bisnis, membuat business plan, mulai produksi barang, membangun reputasi, hingga mengumpulkan calon pelanggan.

Semua ini jika tidak ditelateni, akan susah untuk mencapai “garis finish”. Karena itu, dibutuhkan mental pebisnis yang sangat mendasar: pantang menyerah, pasti ada jalan. (Bukan iklan lho ya 😀 )

Contoh Supplier Barang

1 — Agradaya

agradaya supplier

Instagram @agradaya

2 — Naruna

naruna supplier

Instagram @naruna.official

Rangkuman

Dropshipper, reseller, supplier, merupakan model bisnis. Sebenarnya juga masih ada 1 lagi: distributor/agen.

Namun untuk sekarang, ketiga role tersebut sudah cukup membantu untuk menjadi bahan awal belajar memulai usaha online. Jika diurutkan, alangkah baiknya jika pemula mulai dari:

  1. Dropshipper (belajar promosi barang)
  2. Reseller (belajar mengelola produk)
  3. Supplier (membangun brand sendiri)

Tetapi kembali pada kamu, melihat kelebihan dan kekurangan yang sudah dijelaskan, beserta contoh yang bisa kamu pelajari juga; silakan putuskan sendiri. Untuk tau lebih lanjut tentang cara memulai, baca selengkapnya di Cara Memulai Bisnis Online.

Sampai di sini cukup paham, ya?

Jika ada yang masih belum jelas, sampaikan saja lewat kolom komentar. Kami akan senantiasa bantu kamu untuk belajar. Semoga membantu 🙂

Bagikan ke:
Ditulis oleh

Ifan Prasya

Terampil dalam meracik strategi SEO Content Marketing untuk bisnis yang mampu meningkatkan angka penjualan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *