Strategi Penetapan Harga Menurut Para Ahli Beserta Contohnya

Hanif 02 Jan 2023 5 Menit 0

Apakah kamu sedang menentukan harga dari barang yang kamu jual? Ataukah kamu sedang menganalisa penempatan harga suatu produk? Gunakan strategi penetapan harga yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.

Penetapan harga sering kali menjadi penentu apakah suatu barang laris dan laku. Sebagai salah satu komponen dalam 4P Marketing dari Kotler, Penetapan harga atau pricing tidak bisa kamu pandang sebelah mata.

Makannya, strategi penetapan harga berikut banyak digunakan sebagai tips jualan online maupun offline supaya produk berhasil penetrasi pasar, sustain, dan mendapatkan profit yang tinggi.

Apa saja strategi penetapan harga yang banyak digunakan? Mari kita simak 😊

Tujuan Penetapan Harga Menurut Tjiptono

Sebelum mengetahui bentuk strategi penetapan harga, ada baiknya kamu mencermati tujuan yang melandasi penetapan harga. Menurut Tjiptono 2014, ada 4 orientasi tujuan penetapan laba.

  1. Orientasi pada laba
    Orientasi ini berdasarkan pada teori ekonomi klasik bahwa harga yang dipilih adalah harga yang dapat menghasilkan laba paling tinggi. Iya iyalah, siapa sih yang gak demen sama profit gede?
  2. Orientasi pada Volume
    Dalam istilah inggris dikenal juga sebagai volume pricing obejctives. Jadi yang menjadi prioritas adalah volume penjualan. Jangan salah, kalau angka jualan tinggi, margin profit dikit juga lama-lama jadi bukit.
  3. Orientasi pada Citra
    Ketika suatu barang dipatok dengan harga mahal, orang akan berasumsi dan mengasosiasikannya sebagai sesuatu yang premium, mewah, atau exclusive. Ini adalah salah satu strategi penetapan harga psikologis yang jamak ditemui pada barang mewah.
  4. Tujuan Stabilisasi Harga
    Ketika harga suatu produk diturunkan, penjual lain biasanya tidak mau kalah. Contoh lainnya adalah ketika Bulog membuat pasar murah untuk sembako yang mahal. Kondisi seperti itu adalah salah satu bentuk stabilisasi harga dalam industri.
  5. Tujuan lainnya
    Ada juga tujuan lain, seperti mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjualan ulang, atau menghindari campur tangan lain. Misalnya, harga yang sengaja terlalu murah untuk merusak pasar, sehingga pengusaha lain terpaksa hengkang dan gulung tikar.

Baiklah, setelah mengerti beberapa tujuan dan orientasi penetapan harga, mari kita cermati beberapa strategi penetapan harga menurut para ahli.

Pendekatan Penetapan Harga

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan sebagai dasar landasan dalam menetapkan harga suatu produk.

Break-Even Pricing

Sebelum menetapkan harga, tentunya ketahui terlebih dahulu break-even point atau titik impasnya. Ini adalah titik di mana value produk sama dengan biaya produksi hingga marketing.

Paling tidak, ketika suatu produk dijual dengan harga Brak Even Pricing maka perusahaan tidak rugi. Setelah break-even point ditambah dengan margin profit, sering juga strategi ini disebut biaya harga plus.

Demand Based Pricing

Juga disebut sebagai Riset Permintaan Pasar, strategi yang satu ini juga kerap digunakan sebagai salah satu strategi penetapan harga.

Sesuai hukum ekonomi, produk dengan ketersediaan tinggi dan demand rendah cenderung membuatnya memiliki harga yang terjangkau, sementara produk dengan demand tinggi namun ketersediaan rendah membuat harganya melambung.

Makannya, ketika melihat demand atau permintaan pasar yang tinggi, beberapa toko tidak segan-segan untuk mengkatrol harga produk.

Competition Based Pricing

Strategi ini juga kerap disebut sebagai analisis kompetitor.

Dalam menetapkan harga, berkaca pada kompetitor juga merupakan hal yang perlu dilakukan. Harga produk pesaing bisa digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan harga jual.

Harga bisa dibuat sama, boleh juga dibuat lebih mahal jika kualitas produk lebih baik. Atau bahkan untuk penetrasi pasar bisa juga ditawarkan dengan harga lebih murah daripada kompetitor.

Discriminatory Pricing

Ketika di group jual beli Facebook, pernah menemui penjual yang tidak mencantumkan harga dan meminta untuk dm? Jika harga yang diberikan berbeda-beda kepada setiap orang, bisa jadi penjual tersebut menerapkan discriminatory pricing.

Ini juga kerap diterapkan perusahaan ketika menjual produk kepada kelompok pelanggan yang berbeda. Faktor pertimbangannya adalah harga reservasi pelanggan, atau harga maksimum yang bersedia dibayarkan.

Dalam ilmu ekonomi, ini disebut diskriminasi harga sempurna, atau diskriminasi harga derajat pertama.

Captive Pricing

Pernah membeli suatu produk, tetapi ternyata ada pernah-pernik yang dijual secara terpisah? Ini banyak ditemui pada perlengkapan dan merupakan contoh penetapan harga dengan Captive Pricing.

Artinya, ada produk inti dan produk aksesori atau pernak pernik pelengkap lainnya yang bisa digunakan dengan produk intinya.

4 Strategi Penetapan Harga Psikologis Menurut Deliyanti Oentoro

Faktor Psikologis sering kali menjadi faktor penentu bagi konsumen untuk memutuskan pembelian barang. Makannya, strategi penetapan harga psikologis ini banyak digunakan dan diandalkan oleh marketer.

  1. Prestige Pricing
    Menentukan harga yang tinggi untuk membentuk prestige kualitas produk yang tinggi. Biasanya strategi ini digunakan pada produk shopping dan specialty, contoh, Rolex, Guess, Prada.
  2. Odd Pricing
    menentukan harga sedikit di bawah harga yang telah ditentukan dengan tujuan agar pembeli mengira bahwa produk yang dibeli lebih murah.
    Contoh penerapannya adalah memberikan diskon, bonus, dan gratis ongkir.
  3. Multiple Unit Pricing (Harga Rabat)
    Memberikan potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak. Ini banyak ditemui pada pembelian grosir atau penjualan dari agen pabrik ke reseller.
  4. Price Lining
    Memberikan cakupan harga yang berbeda pada lini produk yang berbeda. Contohnya Coca-Cola memiliki beragam lini produk dengan harga yang berbeda-beda. Begitu juga Samsung yang memiliki lini produk dari segmen entry, menengah, hingga flagship.

9 Strategi Penetapan Harga menurut Kotler (Price Quality Matrix)

Price value matrix- 9 strategi penetapan harga menurut kotler

Philip Kotler, tokoh terkemuka yang mencetuskan 4P marketing mengidentifikasi 9 strategi marketing . Strategi Pricing untuk marketing ini didasari pada hubungan antara harga dengan kualitas.

Apa saja Strateginya?

  1. Premium Pricing Strategy
    Menempatkan harga yang tinggi, lebih tinggi daripada kualitas produk itu sendiri. Strategi ini bisa digunakan kompetisi rendah dan ketika brand image kuat dan mendominasi pasar.
  2. A high Value Strategy
    Menempatkan harga yang wajar untuk sebuah produk dengan kualitas tinggi. Ideal untuk penetrasi pasar.
  3. Superb value pricing strategy
    Biasanya strategi ini digunakan oleh market players yang ingin mendapatkan marketshare secara agresif daripada kompetitor. Di sini, produk dengan kualitas tinggi ditawarkan dengan harga rendah.
    strategi ini juga bisa digunakan untuk skimming dan memonopoli pasar.
  4. Good Value Pricing
    Produk dengan kualitas baik ditawarkan dengan harga relatif rendah untuk mendapatkan marketshare dan memaksimalkan pertumbuhan penjualan
  5. Average atau rata-rata
    penempatan harga produk kualitas menengah untuk harga rata-rata. Kualitas produk setara harganya.
  6. Overcharging
    harga yang tinggi ditetapkan pada barang dengan kualitas menengah. Biasa digunakan untuk konsumen yang tidak memiliki akses kepada harga pasar yang sesungguhnya untuk memaksimalkan margin profit.
  7. Economy Pricing
    penempatan harga rendah untuk produk dengan kualitas rendah. berguna auntuk menarik minat konsumen yang sensitif terhadap harga.
  8. False Economy strategy
    Ketika produk kualitas rendah dijual dengan harga standar. Dianjurkan untuk menaikkan kualitas barang atau menurunkan harga.
  9. Rip Off strategy
    ketika produk dengan kualitas rendah dijual dengan harga premium. bisa digunakan untuk produk kw/palsu.

Laman: 1 2

Bagikan ke:
Hanif
Ditulis oleh

Hanif

hi, I'm a SEO content writer with interest on business, entrepreneur, digital marketing, and many more

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.