Advertisement

Cara Menghitung BEP (Break Event Point) Unit, Rupiah & Produksi

Diterbitkan pada
25 April 2022
Waktu membaca
5 Menit

Tahukah kamu dengan istilah BEP? Istilah ini sering kita dengar dalam dunia bisnis makanan, produk, jasa, dan lainnya. BEP merupakan singkatan dari Break Event Point. Nah, kali ini akan kami berikan informasi lengkap mengenai BEP dan cara menghitung BEP yang baik dan benar.

Sebagai pelaku usaha, wajib paham dengan istilah BEP dan fungsi dari BEP. Hal ini karena BEP sangat penting digunakan untuk mengambil keputusan dalam dunia bisnis.

Jika belum memahami dengan istilah ini, simak tulisan ini sampai selesai, ya. Jangan lupa juga untuk klik “Bookmark” (⭐) di pojok kanan atas browser supaya tidak kehilangan postingan ini.

Langsung saja kita simak berikut ini. Check it out..

Apa itu BEP (Break Event Point)?

BEP atau Break Event Point sering dikenal dengan sebutan balik modal. Jadi, setelah mengeluarkan modal awal/investasi dalam membangun usaha, terdapat analisis balik modal.

Selain itu, BEP juga diartikan dengan titik impas dimana biaya operasional yang telah dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa sama dengan jumlah pendapatan yang diterima.

Menurut Susan Irawati seperti dilansir dari jurnal.id, dalam bukunya “Manajemen Keuangan“, ada beberapa dasar yang digunakan dalam menghitung Break Event Point, antara lain sebagai berikut :

  1. Biaya yang terjadi dalam suatu perusahaan harus digolongkan kedalam biaya tetap dan biaya variabel.
  2. Biaya variabel yang secara total berubah sesuai dengan perubahan volume, sedangkan biaya tetap tidak mengalami perubahan secara total.
  3. Jumlah biaya tetap tidak berubah walaupun ada perubahan kegiatan, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah-ubah.
  4. Harga jual per-unit konstan selama periode dianalisis.
  5. Jumlah produk yang diproduksi dianggap selalu habis terjual.
  6. Perusahaan menjual dan membuat satu jenis produk, bila perusahaan membuat atau menjual lebih dari satu jenis produk maka “perimbangan hasil penjualan” setiap produk tetap.

Maka dari itu, BEP ini sangat penting dilakukan. Analisis BEP ini bisa digunakan untuk membantu pelaku bisnis dalam menganalisa kerugian untuk mencapai keuntungan yang maksimal.

Apa Tujuan & Fungsi Analisis BEP?

Supaya tidak salah mengambil langkah, BEP ini akan bermanfaat sekali untuk berjalannya suatu bisnis. Adapun beberapa tujuan dan fungsi dari analisis BEP, antara lain :

  • Sebagai patokan jumlah minimum penjualan barang atau jasa yang harus dipertahankan supaya tidak mengalami kerugian.
  • Sebagai penentu jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan minimal keuntungan.
  • Untuk menentukan tingkat produksi barang atau jasa.
  • Sebagai ukuran untuk menjaga penjualan dan produksi tidak lebih kecil dari BEP.
  • Untuk merencanakan penjualan dan produksi stok barang dan jasa.

Selain tujuan dan fungsi diatas, tentu BEP juga ada manfaatnya, lho! Simak manfaat BEP di part selanjutnya, berikut ini, ya!

Apa Manfaat BEP (Break Event Point)?

Adapun beberapa manfaat dari analisis BEP, antara lain :

  • Memberikan informasi jumlah minimal penjualan yang harus dicapai supaya tidak mengalami kerugian.
  • Memberikan analisis jumlah penjualan rata-rata yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan.
  • Memberikan informasi banyaknya penjualan supaya terhindar dari kerugian.
  • Memberikan informasi perubahan biaya, harga jual, dan tingkat penjualan yang sudah dicapai.
  • Sebagai langkah dalam menyelesaikan masalah seperti penambahan, pengurangan, atau penggantian produksi.
  • Sebagai salah satu bahan pengambil keputusan apakah bisnis akan terus dijalankan atau harus berhenti beroperasi.

Setelah mengetahui manfaat BEP, tentu kamu ingin mengetahui cara menghitung BEP kan? Namun, sebelum itu pahami dulu komponen yang ada untuk menghitung BEP. Langsung saja simak di part berikutnya di bawah ini, ya!

Apa saja Komponen BEP?

Terdapat 5 komponen penting dalam BEP yang wajib dipahami, antara lain sebagai berikut :

  1. Biaya Tetap (Fixed Cost) : adalah biaya tetap walaupun tingkat produksi berubah. Misalnya seperti gaji karyawan, sewa tempat usaha, dan pajak.
  2. Biaya Variabel (Variable Cost) : adalah biaya yang berubah-ubah mengikuti volume produksi. Misalnya seperti biaya listrik, internet, air, dan bahan baku.
  3. Harga Jual ( Selling Price) : adalah harga jual per item barang atau jasa yang diproduksi.
  4. Pendapatan (Revenue) : adalah pendapatan atau uang masuk yang diterima dari produk yang telah terjual.
  5. Laba (Profit) : adalah keuntungan bersih dari hasil penjualan setelah dikurangi dengan biaya tetap dan biaya variabel.

Komponen-komponen diatas, wajib kamu pahami, ya. Hal ini untuk memudahkan kalian dalam menghitung BEP (Break Event Point).

Untuk cara menghitungnya, bisa kamu simak di pembahasan dibawah ini. Stay tuned!

Cara Menghitung BEP (Break Event Point)

Dalam menghitung BEP atau titik impas terdapat 2 rumus penting yang wajib kamu ketahui. Yaitu ada BEP Unit dan BEP Rupiah.

  • BEP Unit adalah penghitungan balik modal yang dinyatakan dalam satuan unit atau jumlah penjualan produk.
  • BEP Rupiah adalah penghitungan balik modal yang dinyatakan dalam satuan rupiah atau harga penjualan produk.

Jika menghitung BEP menggunakan metode persamaan, maka komponen yang digunakan berdasarkan laporan laba rugi. Sedangkan rumus BEP yang menggunakan metode margin kontribusi berdasarkan selisih pendapatan dan hasil penjualan dengan biaya variabel.

Berikut ini untuk rumus dari margin kontribusi unit dan rasio margin kontribusi :

Margin Kontribusi Unit = Pendapatan – Variabel Cost

Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi Unit : Penjualan

Halaman Selanjutnya
1. Cara Menghitung BEP Unit...

Laman: 1 2

Bagikan ke:
Ditulis oleh

Ambar Arum Juliyanti

I have experience in field of the SEO Content Writer. I am willing and able to learn also work with new things either individual or team. I am also interested in anything about Digital Marketing, SEO and Informatics.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *