Apa itu Pre-Order? Pengertian, Contoh, dan Strategi Praktis untuk Jualan Online

Penulis
Ifan Prasya
Diterbitkan pada
21 Juni 2021
Waktu membaca
6 Menit

Sering menjadi model belanja online, pre order sudah sepatutnya dilirik untuk dijadikan strategi penjualan. Sudah banyak contoh brand yang menggunakan strategi pemasaran satu ini; dan terbukti berhasil.

Untuk itulah, kami coba menelisik lebih jauh mengenai pre order dan seluk beluknya. Hasil telisik kami bisa kamu lihat dalam postingan ini, yang membahas poin-poin secara rinci, mengenai:

  • Pengertian pre order,
  • Kelebihan dan kekurangannya,
  • Tips praktek untuk jualan online,
  • Contoh pemasaran yang dilakukan.

Jika kamu tertarik untuk belajar, ketuk Bookmark (⭐) di pojok kanan atas browser untuk menyimpan postingan ini. Jika sudah, mari kita mulai dari yang paling dasar: arti pre order.

 

Pengertian Pre Order

Pre order adalah cara belanja untuk barang-barang yang membutuhkan perlakuan khusus sehingga packaging bisa lebih dari 7 hari (s/d 15 hari). Untuk itu, pembeli wajib DP terlebih dulu untuk melakukan pemesanan produk.

Perlakuan khusus di sini artinya, produk yang dijual tidak sedang ready stock. Biasanya membutuhkan waktu untuk memproduksi dan mengemas barang tersebut. Secara umum, produk custom-lah yang sering menggunakan sistem ini.

Namun tidak melulu produk custom (hand crafted, kerajinan tangan), tetapi produk-produk konvensional juga dapat menerapkannya. Untuk menarik perhatian konsumen terlebih dulu dan memberikan kesan ekslusif.

Selain produk custom, berikut ada beberapa alasan kenapa banyak supplier yang melakukan pre order:

  • Menghindari kelebihan stok yang diproduksi,
  • Produk dipesan dari supplier luar negeri,
  • Mengerjakan custom ukuran, warna, type, dll,
  • Untuk menambah ekslusivitas barang yang dijual,
  • Proses produksi dan pengemasan yang cukup lama,
  • dan alasan lainnya.

Bisa disimpulkan bahwa sistem pre order berkebalikan dengan ready stock. Barang PO harus menunggu setidaknya 7-15 hari sejak pemesanan, produksi, pengemasan, hingga pengiriman.

Sedangkan, barang yang sudah ready stock bisa saja langsung dikirim tanpa menunggu lebih lama. Namun lagi-lagi, sistem PO dilakukan karena alasan tertentu.

Untuk memahami lebih dalam, baca bagian kelebihan dan kekurangannya berikut ini.

Kelebihan dan Kekurangan Pre Order

Dengan menerapkan sistem PO, seller sebaiknya harus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya. Dan mau tidak mau, seller harus menanggung konsekuensi jika ternyata strategi ini tidak berhasil.

Lalu, apa saja kelebihan dan kekurangan dari sistem pre order ini? Berikut rincian selengkapnya.

Kelebihan

  • Seller hanya memproses orderan sesuai jumlah DP yang masuk, jadi akan sangat jarang terjadi stok menumpuk karena barang tidak laku.
  • Modal yang dikeluarkan untuk proses produksi dapat dihitung dan dipersiapkan, daripada harus memproduksi langsung dalam julmah stok tertentu.
  • Pembeli mendapatkan fleksibilitas untuk produk yang akan dipesan. Sesuai dengan permintaan mereka, misalkan desain, warna, ukuran, dan lainnya.
  • Pembeli bisa membayar DP terlebih dahulu, jika barang yang diproduksi sudah siap, maka pembeli bisa melunasinya beserta biaya ongkos kirim.
  • Produk yang diterima oleh pembeli juga lebih fresh atau baru, karena baru saja melalui proses produksi.

Kekurangan

  • Pembeli akan menerima barang lebih lama ketimbang membeli produk yang ready stock, hitungannya mulai dari seminggu hingga dua minggu lamanya.
  • Sistem PO bisa saja dibatalkan apabila jumlah pemesan tidak memenuhi standar produksi (namun hal ini sangat jarang terjadi).
  • Apabila dalam marketplace ada penjual yang mengambil barang dari luar negeri, maka pembeli harus menunggu waktu sampai lebih lama lagi (lebih dari dua minggu).

Baca juga konten-konten serupa:

Tips Pre Order untuk Jualan Online

Jika memang kamu adalah seller dan ingin menerapkan sistem PO ini, pelajari tips praktisnya di bawah ini. Diantaranya:

  • Pilih supplier yang OK,
  • Batasi stok pre order,
  • Buat jadwal yang jelas,
  • Buat alur pemesanan yang jelas,
  • Catat semua pesanan yang masuk,
  • Kabarkan progres produksinya,
  • Minta pembeli untuk kasih review.

Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Pilih Supplier yang Bagus

Kalau kamu tidak memproduksi barang sendiri, maka hal yang perlu dilakukan adalah memilih supplier atau vendor. Pastikan, kualitas produk yang dihasilkan memenuh ekspektasi dari pembeli, juga kamu sendiri.

Pemilihan vendor ini cukup penting, ya. Jangan sampai, kamu tidak mengawasi bagaimana kualitasnya, lalu berakhir pada komplain yang bertubi-tubi dari para pemesan.

2. Batasi Stok yang Dijual

Untuk meningkatkan level ekslusivitas, kamu wajib membatasi jumlah pesanan yang masuk. Secara jelas umumkan kepada mereka (calon pembeli), bahwa produk yang dijual secara pre order berlaku terbatas.

Jumlahnya bisa tergantung pada kemampuan produksi kamu. Jika memang sanggup untuk memproduksi barang hingga 1.000 pcs/bulan, ya batasi di angka tersebut.

3. Buat Jadwal yang Jelas

Jadwal di sini berguna untuk memberikan batas ekslusif juga, mirip seperti jumlah stok. Misalkan, konsumen hanya dapat memesan barang secara pre order mulai dari tanggal 01-15 Juni (contoh).

Dengan dibatasinya tanggal pemesanan, calon pembeli akan merasa bahwa barang tersebut memang ekslusif. Tidak semua orang dapat memilikinya. Sehingga, ‘desakan’ untuk beli sekarang sangat tinggi.

4. Buat Alur Pemesanan

Alur pemesanan wajib didesain dengan semudah mungkin. Jangan sampai ribet untuk mengisi banyak form yang ‘njelimet’ dan membuat mata malas untuk melihatnya.

Karena itu, perhatikan alur pemesanan yang bagus: (1) Tekan tombol pre order (diarahkan menuju chat WA), (2) Berikan form kepada pemesan untuk diisi, (3) Pemesan mengirim konfirmasi pembayaran.

Selesai! Untuk isi form-nya, buat sesimpel mungkin: nama lengkap, alamat lengkap, barang yang dipesan. Lalu, kamu cek ongkirnya dan berikan total nominal yang harus ditransfer.

Baca juga konten-konten serupa:

5. Catat Seluruh Pesanan

Ingat ya, sistem pre order biasanya jauh lebih rumit. Karenanya, selalu catat pesanan yang masuk. Mulai dari nama lengkap, nomor HP, alamat lengkap, barang yang dipesan, dan permintaan-permintaan tertentu.

Namun jika barang yang dijual bukan barang custom, maka sebenarnya sama saja dengan pendataan barang-barang ready stock. Bedanya, kamu menambahkan beberapa aksen di dalam produk yang dijual secara PO.

Misalkan: ucapan ekslusif dari CEO, bonus yang tidak dijual secara ready stock, desain yang berbeda dari barang ready stock lainnya.

6. Kabarkan Progres-nya

Karena biasanya proses pre order memakan waktu antara 1-2 minggu, maka pembeli akan sangat sering untuk menanyakan progres produksinya sudah sampai mana.

(Bahkan untuk barang ready stock saja, pembeli sering kali tanya barangnya sampai mana, padahal urusannya ekspedisi 😭.)

Ya begitulah berjualan, maka lakukan saja. Kabari kepada setiap pemesan barang (bisa memakai fitur broadcast message jika lewat WA), bahwa proses produksi sedang berjalan sampai tahap A, B, C (sesuaikan dengan tahapan yang dilalui).

7. Minta Pembeli untuk Review

Di sinilah letak kesuksesan untuk sistem PO berikutnya. Sampaikan kepada pembeli, bahwa kamu menginginkan review jujur dari hati. Bagaimana untuk kualitas produknya, kemudian desain dan aksen ekslusifnya.

Lalu, mintalah masukan dari mereka, kira-kira aspek mana saja yang perlu dibenahi. Apa yang kurang dari berjalannya sistem PO yang dijalankan, dan apa yang tidak disukai dari sistem tersebut.

Jadikan masukan tersebut untuk proses perbaikan usaha ke depannya. Masukan jujur dari pembeli itu sangatlah berguna, lebih dari saran apapun; termasuk para pakar bisnis.

Contoh Pemasaran Secara Pre Order

Kami coba merangkum beberapa contoh brand yang sudah terbukti sukses menjalankan sistem ini. Berikut ulasan selengkapnya.

HMNS Perfume

Produsen parfum di Indonesia yang cukup digemari di kalangan milenial nusantara. Bahkan, untuk platform jualan di Tokopedia saja, mereka sudah mampu menjual hampir 50.000 produk (hingga saat ini tulisan ini terbit).

Padahal, harga per produknya bisa mencapai Rp300.000 (rata-rata). Maka untuk platform Tokped saja, mereka sudah menghasilkan omzet sebesar Rp15.000.000.000 (15 Milyar).

HMNS mampu mengemas produknya menjadi sangat ekslusif berkat sistem pre order ini. Untuk contoh postingannya, kamu bisa lihat di feed IG berikut ini:

 

View this post on Instagram

 

A post shared by HMNS Perfumery (@hmns.id)

Di atas bisa dilihat, bahwa sebenarnya produk tersebut sama sekali tidak ada custom desain dan lainnya. Murni untuk mengumumkan bahwa produk tersebut hanya dijual secara pre order.

Dan bisa dilihat dari respon pembeli yang cukup antusias. Begitu pula dengan review yang diberikan oleh pembeli sebelumnya. Mahligai!

Kelas Cinta

Berikutnya, ada brand bernama Kelas Cinta. Portal edukasi romansa bagi mereka yang ingin bersiap diri menuju ke jenjang pernikahan. Dan pada contoh ini, ada salah satu produk bernama G3: Glossy Gentlemen Guide.

Produk ini berbentuk buku yang dijual melalui toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Namun, jika ingin pre-order, maka akan mendapatkan bonus-bonus lain yang tidak didapat jika hanya beli di toko buku.

Berikut contoh banner pemasarannya:

contoh produk hitman system pre order

(c) kelascinta.com

Produk yang ditujukan untuk para pria agar mampu mengembangkan diri menjadi lebih berkualitas, punya banyak pergaulan, dan memiliki karakter kuat untuk mencapai cita-citanya dalam hidup.

Jika tidak salah, produk tersebut dibatasi dalam proses pre order-nya. Dan terbukti mampu menjual ribuan eksemplar hanya dalam beberapa hari saja.

Rangkuman

  • Pre order adalah sistem penjualan yang memerlukan penanganan khusus (produk custom) sehingga harus ada pesanan dulu baru diproses produksi dan pengemasannya.
  • Kelebihan sistem PO: bisa meng-handle jumlah pesanan yang masuk, menambah kesan ekslusif bagi produk yang dijual, jarang mengalami kerugian yang disebabkan stok tidak laku (karena hanya produksi berdasarkan jumlah pesanan).
  • Kekurangan sistem PO: waktu produksi lebih lama dibanding barang yang ready stock, bisa batal karena tidak memenuhi jumlah pesanan yang sesuai standar minimal produksi (meskipun jarang terjadi).

Bagaimana, sampai di sini sudah cukup paham mengenai pre order, ya? Mulai dari pengertian, kelebihan, kekurangan, hingga cara menerapkannya untuk aktivitas jualan online yang lebih efektif.

Kalau kamu suka konten ini, bagikan ke teman-teman dengan mengetuk tombol Share (🎁) di bawah. Jika masih ada yang belum jelas, Tinggalkan Balasan (✍) untuk bertanya atau berkomentar.

Oh iya, Follow IG (👋) kami di @PintarJualan.id untuk tetap terhubung dan diskusi bersama. Kami rutin membagikan postingan bermanfaat seputar insight jualan, tips ekspedisi, hingga lelucon seputar e-commerce.

Akhir kata, terima kasih dan semoga membantu yaa~ 🙏

Bagikan ke:
Ditulis oleh

Ifan Prasya

Terampil dalam meracik strategi SEO Content Marketing untuk bisnis yang mampu meningkatkan angka penjualan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *