Advertisement

Order Fiktif dan Cara Mengatasi, Pengertian, Tujuan, & Kasus

Diterbitkan pada
31 Mei 2022
Waktu membaca
5 Menit

Order Fiktif adalah pesanan palsu atau fake yang dilakukan oleh sejumlah oknum secara sengaja dan sepihak.

Oknum yang melakukan tindakan tak terpuji tersebut biasanya memiliki niat terselubung dan tujuan tertentu.

Metodenya pun beraneka ragam, mulai dari memberikan alamat palsu atau mencantumkan lokasi rumah orang lain, membatalkan sepihak saat pesanan sedang diantar, tiba-tiba menghilang, dan sebagainya.

Tentu saja hal ini berpengaruh pada kinerja dan performa mitra transportasi online atau jasa taking order.

Kok bisa sih? Nah, makanya simak dulu yuk supaya kita tidak menjadi pelaku dari aktivitas itu dan langkah-langkah mencegahnya!

Pengertian Order Fiktif (Ofik)

Apa itu Ofik? Order Fiktif adalah masuknya pesanan palsu yang dilakukan oleh segelintir oknum tak bertanggungjawab guna mencapai tujuan tertentu.

Berasal dari Bahasa Inggris yakni ‘order’ yang berarti pesanan dan ‘fictitious’ yang artinya tak nyata.

Pelaku yang melakukan pesanan palsu umumnya didasari motif dan latar belakang tertentu.

Bisa karena iseng pada driver secara langsung atau pada perusahaan transportasinya akibat kekecewaan yang terpendam.

Namun, baru-baru ini rupanya Ofik dilakukan atas kerja sama antara driver Ojol dengan seorang oknum demi mencapai daily point Ojek Online.

Mereka bekerja sama dengan cara yang sangat rapi.

Sayangnya, tindakan tersebut mampu terendus oleh pihak perusahaan yang memantau pergerakan driver mereka saban harinya.

Kira-kira, apa ya tujuan mereka melakukan fake order?

Tujuan Order Fiktif

Tujuan order fiktif tiap oknum berbeda-beda, akan tetapi jika dilihat dari beberapa kasus yang sempat ramai, bisa kita simpulkan kalau mereka ingin mendapatkan sesuatu.

  • Melampiaskan kekecewaan atau kekesalan pada pihak transportasi online
  • Sekadar iseng tanpa tahu akibat dari perbuatannya
  • Mendapatkan pengakuan dan validasi bahwa dirinya bisa bertindak di luar batas
  • Mendapatkan keuntungan pribadi
  • Sebagai bentuk teror karena alasan tertentu dan sebagainya

Lalu, bagaimana cara mengenali ciri-ciri orderan yang fiktif?

Ciri-Ciri Order Fiktif

Sebagai driver ojol dan penjual makanan, tentunya kita selalu dituntut untuk waspada terhadap setiap pesanan yang masuk.

Terlebih lagi jika jumlah item yang dipesan sangat banyak, otomatis kerugian yang mesti kita tanggung juga besar.

Nah, supaya tak terjebak dengan aktivitas merugikan seperti itu, beberapa pihak banyak yang mewanti-wanti agar siapa pun berhati-hati.

Salah satunya mengenali ciri-ciri pesanan palsu.

  1. Nama pemesan terlihat serampangan dan tidak jelas
  2. Lokasi dan alamat yang dicantumkan tidak lengkap, tidak jelas, dan menyalahi rute
  3. Pemesan sulit dihubungi baik via chat maupun telepon
  4. Jumlah item yang dipesan sangat banyak dan mustahil untuk dibawa oleh driver berkendaraan roda dua
  5. Metode pembayaran yang digunakan berupa uang cash atau tunai. Sebaliknya, tidak menggunakan sistem pembayaran GoPayLater atau akun GoPay-nya, dan lainnya.

Mungkin kejahatan dari tahun ke tahun akan kian canggih diiringi pencegahan dan kontrol yang makin efektif.

Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk senantiasa berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan.

Jangan gegabah dan update berita terkini.

Contoh Kasus Order Fiktif

Supaya makin berhati-hati lagi terhadap modus pesanan bodong dan palsu, sebaiknya kita cermati terlebih dahulu beragam kasus yang sempat hits beberapa waktu yang lalu ya.

1. Pesanan Tak Dikenal

“Kasus yang pertama ini datang dari Palembang.

Seorang driver bernama Jefry menerima pesanan fiktif usai mengkonfirmasi customer atas nama Sulaeman lewat Go Food.

Oknum tersebut memesan dalam jumlah yang tak sedikit.

Antara lain, 1 bungkus sate ayam, sate sapi, kambing, gulai biasa, gulai komplit, dan sebungkus emping.

Jika dirupiahkan, seluruhnya menghabiskan biaya Rp391.400,00.

Setelah pesanan tersebut selesai, Jefry berusaha mengonfirmasi pada Sulaeman dan ia meminta agar makanan diantar ke Fave Hotel Palembang.

Namun, betapa mengecewakannya, Sulaeman tidak ada di Fave Hotel Palembang dan ia pun tak bisa dihubungi kembali.

Melihat tersebut, pihak GoJek pun tak tinggal diam.

Pihaknya akan mengambil tindakan tegas dengan memblokir akun penipu tersebut.

Setelah diusut, rupanya korban order fiktif di Palembang bukan hanya Jefry saja, tetapi masih ada 10 orang lainnya dengan kerugian mencapai Rp500.000,00.”

2. Bisnis Jasa Transportasi Online

“Kasus berikutnya yaitu kerja sama antara driver dengan seorang oknum yang sengaja ia bayar.

Atau yang lebih dikenal dengan nama ‘Bisnis Jasa Transportasi Online’.

Seorang driver Ojol diam-diam bekerja sama dengan penumpang bayaran untuk mencurangi pihak transportasi online.

Ia dikabarkan membayar senilai Rp5.000,00 pada oknum penumpang tersebut demi mendapatkan daily point sebesar 15 dari aplikator.

15 Poin jika dirupiahkan akan menjadi Rp180.000,00 dan bila dilakukan secara berulang maka keuntungan dapat mencapai Rp500.000,00.

Dalam kasus ini, penumpang yang dibayar juga fiktif karena driver hanya berputar-putar saja seolah menjemput customer mereka.

Sehingga sang driver tidak menurunkan atau pun menjemput, melainkan hanya berkeliling tanpa tujuan.

Untung saja tindakan tersebut diketahui oleh perusahaannya dan oknum-oknum itu mendapatkan sanksi tegas.”

Laman: 1 2

Bagikan ke:
Diarsipkan di bawah:
Ditulis oleh

Anisa Juniardi

I love being I am. Menulis dan membaca pada ruang yang telah disediakan oleh Tuhan. Iya. Saya seorang content writer SEO dan yeaah.. here we go

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *